Rabu, 14 Maret 2018

RACUN SEMANIS MADU



Godlief Malatuny
(Sekretaris Konsorsium Peduli Pendidikan Maluku)

Judul tulisan ini sengaja saya pinjam dari kata Kahlil Gibran, sang pujangga besar asal Libanon dalam bukunya yang berjudul Bila Cinta Bicara untuk menggambarkan politisi yang piawai bersilat lidah dengan kata-kata manis bernada palsu.

Amat ironis, dalam alam demokrasi seperti saat ini masih ada politisi secara riuh menawarkan berbagai program yang muluk-muluk demi meraup keuntungan suara. Padahal ia sendiri masih ragu dengan berbagai program yang ia tawarkan kepada warga, mengingat banyak janji yang mesti dituntaskan jika ia berhasil menduduki kursi yang direbut. Di situ, saya melihat ular kemunafikan dan kepalsuan merangkak.

Terlepas dari fenomena itu, menjelang pemilukada saya melihat politisi mempermainkan pikiran dan otak orang-orang lemah bagai seekor kucing yang mempermainkan seekor tikus. Alih-alih seorang politisi boleh bohong, namun tak boleh salah adalah langkah awal baginya untuk berbicara sesuka hatinya bahkan mengandung hoaks sekalipun, asalkan ia tak salah bertindak di hadapan warga.

Lebih-lebih, bila ia semangat berbicara ia takkan memberi kesempatan kepada lawan bicaranya. Pahadal, orang arif sering mengingatkan, sebuah tindakan yang terlalu bersemangat sering hanya menunjukan kebodohan pelakunya (Suryadi, 2017).

Memang benar, berbicara adalah "bab" dari seorang politisi, namun merasa benar dengan apa yang dibicarakan adalah sebuah kesalahan fatal. Hati-hatilah, sebab kesalahan paling fatal adalah merasa benar dengan pemikiran yang salah. Dan jika hal ini terus dibiarkan, maka sangat disayangkan akan menjadi bumerang bagi dirinya.

Berbicara adalah hak segala bangsa, untuk itu seorang politisi boleh berbicara sesuka hatinya, namun sampai hati bila kata-kata semanis madu yang keluar dari mulutnya berbau hoaks karena hanya menambah deposit dosa. Sudah pasti ia akan hancur dan kehancurannya adalah buah-buah kebohongan. Untuk itu, kepura-puraan yang berulang di setiap musim pemilukada mesti dihentikan oleh dirinya sendiri. Politisi seharusnya menjadi "rahmat di dalam lumbung-lumbung negeri" seperti yang diutarakan Kahlil Gibran.

Jurus Penyelamat

Politisi acap kali ingin "melapisi kehormatan dengan kehormatan yang lebih tinggi sebagai penolak kenistaan zaman" seperti kata Kahlil Gibran, sehingga dalam proses yang dicap demokrasi sekalipun masih terselip kata-kata manis bernada palsu dari sang politisi, itulah yang disebut penulis sebagai racun semanis madu.

Beragam isu, entah baik maupun buruk digoreng sematang mungkin oleh politisi agar bisa dikonsumsi oleh warga. Tiga langkah bijak yang menjadi jurus penyelamat terhadap isu palsu yang beredar selama musim pemilukada.

Kesatu, warga mesti melakukan klarifikasi berganda tentang isu yang ditebarkan oleh politisi. Mengecek fakta secara berulang kali demi memastikan kebenarannya. Teori korespondensi menegaskan bila sebuah pernyataan tidak sesuai dengan, atau tidak merujuk fakta yang sahih, maka pernyataan tersebut palsu/bohong.

Kedua, membedah setiap pernyataan politisi menjadi hal mutlak, agar kekurangan dan kesalahan bisa dielak. Memang, kekurangan dan kesalahan politisi boleh saja ditoleransi, tetapi sikap kritis warga tidak boleh berhenti. Warga mesti menguji politisi yang sedang unjuk diri agar warga tak sampai salah memilih.

Ketiga, menjelang pemilukada, politisi acap kali bertaruh badan layaknya tim sepak bola yang bermain di ujung waktu pertandingan, semua kekuatan dikerahkan dengan strategi yang tepat agar tim meninggalkan lapangan dengan kepala tegak. Alih-alih jurus ampuh mulai dari kampanye damai hingga black campaign dan money politics mencuat ke permukaan secara diam-diam demi mengalahkan lawan politik. Inilah yang menyebabkan kisruh antarpolitisi tidak akan berhenti sepanjang musim pemilukada.

Warga tak boleh buta dan tuli, lebih-lebih warga harus pandai mengenali siapa politisi yang peduli terhadap persoalan yang melilit kehidupan bangsa. Yang diperlukan adalah komitmen dan keberanian mengatasi persoalan, agar kita tidak seperti apa yang dikatakan Schiller: "sebuah bangsa yang besar namun bingung dengan amalan".

Akhir kata, meski demokrasi selalu memberi ruang bagi politisi untuk berkompetisi merebut jabatan, namun tak semestinya politisi menebarkan beragam program muluk-muluk yang tak dapat direalisasikan agar warga tak memandang demokrasi sebagai proses yang menjengkelkan, lebih dari itu mereka tak mengubur kepercayaan terhadap setiap perkataan politisi.***

1 komentar:

Comments system

Disqus Shortname