Sabtu, 18 Agustus 2018

NEGERI KOMEDI



K a r y a 
Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pattimura,
Angkatan 2015

Indonesia negeri kepingan surga
Jatuh diapit garis khatulistiwa
Menawarkan sejuta keindahan layaknya surga

Subur tanah-tanahnya
Hingga tongkat dan batu
Tak malu-malu
Dirampas dan diperkosa tak malu
Tapi malu tumbuh tak diperkosa

Inilah negeriku kawan
Unik dan malu-malu
Tapi tak malu diperkosa dan memperkosa diri sendiri

Jumat, 17 Agustus 2018

Kebesaran Indonesia Hadir



MINGGU lalu publik dikejutkan dengan pemberitaan di media tentang gempa bumi bermagnitudo 7 yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat dan wilayah sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 132 gempa susulan terhitung sejak gempa bermagnitudo 7 hingga Senin pukul 08.00 WIB.

Gempa bumi bukan hanya menelan korban jiwa dan korban luka, namun juga menghilangkan harta milik warga. Segala daya upaya mesti dilakukan oleh negara demi menyelamatkan para korban. Perlu ditekankan bahwa menanggulangi bencana dengan menciptakan ketergantungan dan mentalitas pasrah adalah tindakan penyelamatan yang mempercepat kematian.

Hal ini tak boleh dibiarkan terjadi. Sampai hati bila negara membiarkan warganya merasa kesepian menghadapi bencana dan hanya beralas kesabaran semata. Melalui beragam cara warga mesti menyaksikan “kebesaran” Indonesia hadir saat mereka didera musibah dan bencana seperti yang terjadi berikut ini.

Kesatu, pascagempa Presiden Jokowi mengunjungi korban gempa di Desa Madayin, Kecamatan Sambelia, Selong, Lombok Timur, NTB, dan mengatakan pemerintah akan memberikan bantuan sebanyak 50 juta per rumah korban gempa yang mengalami kerusakan. Selain itu, Presiden Jokowi sudah langsung berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto untuk mengkoordinasikan penanganan pascagempa.

Kedua, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus melakukan penggalangan dana dan bantuan untuk membantu korban gempa bumi. Penggalangan dana ini dilakukan dengan melibatkan pegawai di lingkungan Kemnaker dan seluruh warga. Sementara itu, Kemnaker melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Lombok Timur telah menyalurkan bantuan kepada para korban gempa bumi di Lombok.

Ketiga, Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan dana bantuan untuk korban gempa di Lombok, tersedia dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana bantuan itu dikategorikan sebagai emergency atau reaksi darurat. Keempat, Menteri Sosial Idrus Marham memastikan  telah terjalin koordinasi antara pihaknya dengan pihak-pihak terkait untuk meningkatkan dukungan bantuan kepada para warga terdampak gempa bumi. Peningkatan itu mencakup pendirian tenda hingga dapur umum.

Kelima, Pemprov Jawa Barat telah mengirimkan bantuan uang Rp 3,1 miliar untuk meringankan korban bencana gempa bumi sebagai wujud kepedulian warga Jabar atas bencana gempa bumi yang terjadi di Lombok. Lebih dari itu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil melalui akun instagramnya menjelaskan bahwa ”sudah terkumpul dalam 2 hari 361 juta dari 2500-an donatur dan beragam netizen untuk bencana gempa bumi di Lombok”. Sambil menggalang dana tim mereka sudah berada di Lombok sejak minggu lalu untuk membantu dan menyalurkan bantuan.

Keenam, tak luput dari perhatian anggota DPR RI Fahri Hamzah yang maju dari daerah pemilihan (dapil) NTB, terjun langsung memantau bencana gempa bumi di Lombok dan mengumpulkan gaji anggota DPR untuk para korban.

Kata Suryadi (2017), respon pemerintah terhadap bencana dan beragam persoalan yang membelit warga bukan hanya akan dimaknai sebagai wujud penunaian misi pemerintah yang otentik (merawat milik bersama dan menghadirkan perbaikan), tetapi juga akan memperbaiki persepsi publik tentang Pemerintahan Jokowi, makna pileg dan pilpres, dan kepercayaan terhadap sistem politik secara keseluruhan. Belum lagi berbagai bantuan yang terus mengalir dari seluruh komponen bangsa yang tak dapat dituangkan dalam tulisan ini.

Mengkhawatirkan bila terlambat ditanggulangi, bencana bukan hanya akan menelan korban jiwa, luka, dan harta milik warga, tetapi juga akan mengubur kepercayaan warga terhadap partai politik bahkan politik itu sendiri. Dalam banyak pemilu, respon pemerintah terhadap bencana dan persoalan publik amat menentukan partisipasi publik.

Untuk itu, negara tak boleh kedodoran menanggulangi bencana. Suryadi (2017), menegaskan sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan wilayah yang luas, Indonesia semestinya memiliki tim penyelamat yang hebat, sigap, dan tangguh dalam segala medan dan situasi.

Jangan lupa, kegotongroyongan dan kesukarelaan warga adalah komponen pendukung yang perlu dilatih, dilibatkan, dan dikendalikan secara profensional. Keluhan medan yang sulit dan cuaca yang buruk tak boleh lagi terdengar dan menjadi kendala upaya penyelamatan warga.

Inilah saatnya Presiden Jokowi dan jajaranya bertaruh badan layaknya tim sepak bola yang bermain di ujung waktu pertandingan, semua kekuatan harus dikerahkan dengan strategi yang tepat agar tim meninggalkan lapangan tetap dengan kepala tegak.
Meski bencana datang silih berganti, kita tak perlu pesimis. Sebagai bangsa yang besar, kita memiliki semua potensi untuk berkembang menjadi negara yang tangguh. Yang diperlukan adalah komitmen dan keberanian mengatasi persoalan, agar kita tak seperti apa yang dikatakan Schiller: “sebuah bangsa yang besar namun bingung dengan amalan”.

REFLEKSI KEMERDEKAAN


Oleh :
Aldi Yahya Kelirey
(Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan, Universitas Pattimura)
Tidak terasa bahwa sudah 73 tahun kita merdeka dari penjajahan asing. Tak terasa pula bahwa negara kita ini mengalami banyak perkembangan dan lika-liku dalam mempertahankan dan menghayati kemerdekaan ini.

Semestinya, peringatan hari kemerdekaan kita ini bisa menjadi momen bagi kita untuk merenungkan jasa dan perjuangan pahlawan-pahlawan kita, sekaligus merenungkan kembali tentang kondisi negara kita, apakah sudah merdeka sepenuhnya atau justru malah terjajah secara tidak sadar?

Sayangnya, momen hari kemerdekaan ini hanya dirayakan dengan lomba-lomba yang beberapa diantaranya tidak berhubungan dengan filosofi perjuangan atau kemerdekaan negara kita. Sah-sah saja jika ingin mengadakan beraga lomba untuk merayakan hari kemerdekaan.

Tetapi, alangkah lebih bijak jika hal tersebut bisa dijadikan sarana untuk merenungi jasa para pahlawan, sekaligus kemerdekaan negara yang kita cintai ini. Kita mesti mengenang kembali jasa para pahlawan kita yang berhasil menghantarkan kemerdekaan negara ini, sehingga kita bisa terbebas dari belenggu penjajahan dan mampu berkumpul di tempat mulia ini.

Mari kita jadikan momen hari kemerdekaan ini sebagai ajang untuk meresolusi atau merencanakan kontribusi kecil apa yang akan kita lakukan agar kemerdekaan kita tetap terjaga, dan agar negara ini damai sentosa. Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya kemerdekaan ini bisa kita nikmati hingga generasi-generasi selanjutnya, semoga.***

Pejuang Pemikir
Pemikir Pejuang
MERDEKA

REFLEKSI KEMERDEKAAN


Oleh :
Welmince Turwewy
(Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan, Universitas Pattimura) 
73 Tahun yang lalu, pendiri negeri ini berdiri memanfaatkan peluang dalam setiap kesempatan untuk menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang merdeka di negeri yang bernama Indonesia. Tak memiliki  uang yang banyak, tak memiliki kelengkapan senjata yang baik, mereka hanya bermodalkan rasa berani & pantang menyerah yang akhirnya membuahkan kemerdekaan.

Kemerdekaan sampai sekarang dinikmati oleh penghuni Bumi Pertiwi ini. Kemerdekaan yang berarti kita berdiri sendiri, memiliki identitas sendiri serta berkesempatan untuk setara dengan bangsa-bangsa dimuka bumi ini.

Tak sedikit harta benda, jiwa & raga yang dikorbankan untuk mencapai kemerdekaan itu namun, kemerdekaan bukanlah tujuan akhir dari perjuangan para pendahulu kita, sebaliknya kemerdekaan adalah awal, kemerdekaan adalah gerbang, yang didalamnya ada tanggung jawab yang harus dilaksanakan, ada cita-cita yang harus diraih.

Para leluhur kita tak sempat melaksanakan tanggung jawab itu& tak sempat meraih cita-cita itu, sehingga mereka memberikan mandat kepada kita generasi penerus bangsa ini untuk meneruskan cita-cita itu. Generasi penerus dalam hal ini adalah kita pemuda Indonesia. Tak mungkin kita mengharapkan orang-orang yang sudah tua, sebab mereka kelak akan tiada & kitalah yang harus berkarya untuk negeri ini.

Sang Proklamator Ir. Soekarno berkata bahwa “beri aku 1.000 orang tua niscaya Semeru akan kucabut akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” kutipan luar biasa yang membuktikan bagaimana peran pemuda dalam suatu negara. Negara yang hebat ialah negara yang memiliki pemuda-pemudi hebat.

Yang menjadi pertanyaan sebagai pemuda, apakah kita sudah menjalankan mandat agung itu? Apakah kita sudah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang membangun? memang banyak sekali pemuda yang rela berkorban demi negara ini, namun tak sedikit pula pemuda yang tidak peduli dengan negara ini. Apakah kita akan mengisi kemerdekaan ini dengan kebiasaan buruk kita? apakah kita akan mengisi kemerdekaan ini dengan minuman keras, narkoba, seks bebas serta pertikaian?

Wahai pemuda-pemudi, andai saja para pejuang bangsa ini masih hidup, saya yakin mereka akan menangisi negeri ini, menyesali apa yang telah mereka korbankan. karena kehidupan bangsa yang katanya berdasar atas pancasila tidak hidup berpedoman pada nilai-nilai Pancasila. Pancasila kini hanya menjadi patung tak bernyawa dalam tubuh pemerintahan.

Perpecahan antar golongan terjadi dimana-mana, kesatuan negara ini sudah sangat disepelehkan.  Untuk itu sebagai pemuda, kita harus menjadi “agen perubahan” yang mampu membuat perubahan  kongkrit untuk Indonesia yang lebih baik.

Generasi penerus, janganlah hanya pandai berkata bahwa “Aku Cinta Indonesia” tetapi usahakanlah agar kecintaanmu itu dapat dibuktikan dengan karyamu untuk Indonesia. Perjuangan kita masih sangat panjang untuk itu, galihlah terus potensi dirimu, keluarkanlah segala kemampuanmu untuk meneruskan cita-cita luhur bangsa ini.

Buktikanlah pada dunia bahwa walaupun dalam usia yang sangat kecil untuk ukuran suatu negara namun Indonesia bisa karena punya pemuda yang cerdas & bermoral.***
Salam Perjuangan
MERDEKA

Kamis, 09 Agustus 2018

Medsos Menggulung Tata Nilai Bangsa?


Oleh :
Yakob Godlif Malatuny
(Akademisi Universitas Pattimura)

KELAHIRAN media sosial (social media) tampaknya telah mem­bawa dampak yang luar biasa bagi sebagian besar umat manusia di muka bumi. Warga dengan mudah saling berinteraksi, mengirim pesan, berbagi, dan membangun jaringan (networking), mengingat visi kelahirannya adalah menjadi saluran atau sarana pergaulan sosial secara online di dunia maya (internet).

Akibat kelahiran medsos, dunia ini tak ubahnya seperti sebuah desa yang besar dan luas. Kata Affandi (2016), setiap peristiwa yang terjadi di sudut bumi dapat disaksikan secara bersama-sama oleh manusia sejagat dalam detik yang sama di tempat yang berbeda-beda. Melalui medsos siapa saja dapat memperoleh informasi tentang apa saja, kapan saja, dan dari mana saja, mengingat medsos tak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Mulai dari warga biasa hingga pejabat negara sekelas Presiden, Menteri, dan DPR yang memiliki akun medsos bisa eksis dengan mudah. Aktivitas warga acap kali dibagikan ke media, pelbagai kinerja pemerintah pun dapat diketahui dengan mudah oleh warga melalui medsos. Atas berkat kelahiran medsos, warga lebih mudah berinteraksi dengan para pejabat negara.

Namun, seiring dengan aspek positif yang dapat diperoleh melalui kelahiran medsos, pengaruh terhadap perilaku negatif pun semakin menggejala. Perang melalui medsos, ketidakadilan dan tindak kriminal pun dapat terjadi dengan menggunakan perangkat medsos. Alih-alih, warganet saling menyerang dan bertahan menggunakan berondongan kata-kata bernada bullying bahkan menebarkan hoaks (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech) yang sudah tentu jauh dari tata nilai bangsa.

Jangan heran bila banyak kasus berujung di meja hijau akibat pengalahgunaan medsos oleh warganet. Dari jari warganet yang digunakan untuk mengetik dan menyebarkan sebuah konten di medsos bisa berujung di jeruji bila mencemarkan nama baik seseorang, menebarkan hoaks dan ujaran kebencian yang berbau isu SARA.

Sebagian kalangan memandang dengan kaca mata pesimis bahwa medsos merupakan ancaman yang berpotensi menggulung tata nilai bangsa yang sebelumnya sudah menjadi identitas dan pada akhirnya menggantikan dengan tata nilai Barat. Hati-hatilah, sebab dalam pandangan Sofyan (2011), keruntuhan sebuah bangsa ditandai dengan semakin lunturnya tata nilai dan karakter bangsa tersebut, walaupun secara fisik bangsa masih berdiri tegak. Tata nilai dan karakter suatu bangsa tidak terbentuk secara alami melainkan melalui pergaulan sosial yang dinamis.

Jurus Penyelamat

Konten baik yang menjadi viral bisa dianggap sebagai konten kejahatan bila iklim pergaulan sosial secara online sudah tercemar. Demi mencegah ancaman medsos yang berpotensi menggulung tata nilai bangsa, maka diperlukan beberapa gebrakan mendasar sebagai jurus penyelamat. Kesatu, pembangunan melalui wilayah pendidikan yang bertata nilai merupakan esensi dari suatu pemahaman pembangunan yang sepenuhnya berorientasi pada manusia sebagai subyek pembangunan atau lazim dikenal dengan human oriented development.

Confusius—seorang filsuf terkenal Cina—menempatkan kalimat bagus bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebaikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi.

Dengan demikian, sektor pendidikan memegang misi suci untuk membangun dan membentuk tata nilai kehidupan manusia sebagaimana mestinya. Niscaya, pergaulan antar warga di dunia maya selalu akrab dengan sopan santun, ramah tamah, hormat menghormati, musyawarah mufakat, mengakui persamaan derajat, bersikap adil dan sebagainya.

Kedua, peningkatan literasi media oleh seluruh warga menjadi amat penting mengingat hoaks dan ujaran kebencian seakan marak dan menjamur di seantaro medsos. Kebenaran suatu konten merupakan harga yang mahal di era kekinian. Hasilnya warga semakin dibuat ambigu dan kebingungan bagaimana cara mengidentifikasi konten yang sebenarnya. Tanpa usaha meningkatkan literasi media, berarti sama halnya dengan membiarkan kezaliman dan pembodohan terus berlangsung dihadapan kita.

Hobbs (1996) mengatakan literasi media dapat dipahami sebagai proses dalam mengakses, menganalisis secara kritis pesan-pesan yang terdapat dalam media, kemudian menciptakan pesan menggunakan alat media. Pengetahuan tentang literasi media ibarat suntikan imunisasi dimana warga secara mandiri mampu menghasilkan antibodi yang siap menanggulangi berbagai potensi penyakit psikologis pada diri mereka akibat pengaruh konten buruk dari medsos.

Ketiga, warganet dituntut meningkatkan keterampilan berpikir kritis (critical thingking skill) agar menjadi modal utama bagi mereka untuk menggiring beragam opini di medsos. Cogan & Derricott (1998), menegaskan bahwa tantangan globalisasi pada abad 21 menuntut setiap warga negara memiliki karakteristik, salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis dan sistematis.

Memang benar kata Schafersman (1991), seseorang yang berpikir kritis akan dapat mengidentifikasi persoalan, menanyakan sesuatu, menyampaikan argumen, menemukan informasi lain. Memiliki kemampuan berpikir yang terampil dapat membangun seseorang pribadi yang demokratis.

Orang-orang yang tidak terlatih dengan ke­mampuan berpikir yang baik, akan memosisikan dirinya sebagai pemilik pemikiran yang paling baik, dan menganggap orang lain, pemilik kemampuan berpikir yang buruk. Hati-hatilah, kecelakaan yang paling fatal adalah merasa benar dengan pemikiran yang salah (Sudarma, 2013). Untuk itu, keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan oleh semua warganet untuk menanggapi setiap persoalan yang mengemuka di medsos.

Menyudahi tulisan ini, saya berpesan kepada para pembaca yang terhormat dan mulia agar piawai memanfaatkan medsos sebagai alat untuk berinteraksi, mengirim pesan, berbagi, dan membangun jaringan. Hendaklah kita mengedepankan tata nilai bangsa saat berselancar di medsos demi menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh warganet. (***)

Comments system

Disqus Shortname