Jumat, 17 Agustus 2018

Kebesaran Indonesia Hadir



MINGGU lalu publik dikejutkan dengan pemberitaan di media tentang gempa bumi bermagnitudo 7 yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat dan wilayah sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 132 gempa susulan terhitung sejak gempa bermagnitudo 7 hingga Senin pukul 08.00 WIB.

Gempa bumi bukan hanya menelan korban jiwa dan korban luka, namun juga menghilangkan harta milik warga. Segala daya upaya mesti dilakukan oleh negara demi menyelamatkan para korban. Perlu ditekankan bahwa menanggulangi bencana dengan menciptakan ketergantungan dan mentalitas pasrah adalah tindakan penyelamatan yang mempercepat kematian.

Hal ini tak boleh dibiarkan terjadi. Sampai hati bila negara membiarkan warganya merasa kesepian menghadapi bencana dan hanya beralas kesabaran semata. Melalui beragam cara warga mesti menyaksikan “kebesaran” Indonesia hadir saat mereka didera musibah dan bencana seperti yang terjadi berikut ini.

Kesatu, pascagempa Presiden Jokowi mengunjungi korban gempa di Desa Madayin, Kecamatan Sambelia, Selong, Lombok Timur, NTB, dan mengatakan pemerintah akan memberikan bantuan sebanyak 50 juta per rumah korban gempa yang mengalami kerusakan. Selain itu, Presiden Jokowi sudah langsung berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto untuk mengkoordinasikan penanganan pascagempa.

Kedua, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus melakukan penggalangan dana dan bantuan untuk membantu korban gempa bumi. Penggalangan dana ini dilakukan dengan melibatkan pegawai di lingkungan Kemnaker dan seluruh warga. Sementara itu, Kemnaker melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Lombok Timur telah menyalurkan bantuan kepada para korban gempa bumi di Lombok.

Ketiga, Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan dana bantuan untuk korban gempa di Lombok, tersedia dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana bantuan itu dikategorikan sebagai emergency atau reaksi darurat. Keempat, Menteri Sosial Idrus Marham memastikan  telah terjalin koordinasi antara pihaknya dengan pihak-pihak terkait untuk meningkatkan dukungan bantuan kepada para warga terdampak gempa bumi. Peningkatan itu mencakup pendirian tenda hingga dapur umum.

Kelima, Pemprov Jawa Barat telah mengirimkan bantuan uang Rp 3,1 miliar untuk meringankan korban bencana gempa bumi sebagai wujud kepedulian warga Jabar atas bencana gempa bumi yang terjadi di Lombok. Lebih dari itu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil melalui akun instagramnya menjelaskan bahwa ”sudah terkumpul dalam 2 hari 361 juta dari 2500-an donatur dan beragam netizen untuk bencana gempa bumi di Lombok”. Sambil menggalang dana tim mereka sudah berada di Lombok sejak minggu lalu untuk membantu dan menyalurkan bantuan.

Keenam, tak luput dari perhatian anggota DPR RI Fahri Hamzah yang maju dari daerah pemilihan (dapil) NTB, terjun langsung memantau bencana gempa bumi di Lombok dan mengumpulkan gaji anggota DPR untuk para korban.

Kata Suryadi (2017), respon pemerintah terhadap bencana dan beragam persoalan yang membelit warga bukan hanya akan dimaknai sebagai wujud penunaian misi pemerintah yang otentik (merawat milik bersama dan menghadirkan perbaikan), tetapi juga akan memperbaiki persepsi publik tentang Pemerintahan Jokowi, makna pileg dan pilpres, dan kepercayaan terhadap sistem politik secara keseluruhan. Belum lagi berbagai bantuan yang terus mengalir dari seluruh komponen bangsa yang tak dapat dituangkan dalam tulisan ini.

Mengkhawatirkan bila terlambat ditanggulangi, bencana bukan hanya akan menelan korban jiwa, luka, dan harta milik warga, tetapi juga akan mengubur kepercayaan warga terhadap partai politik bahkan politik itu sendiri. Dalam banyak pemilu, respon pemerintah terhadap bencana dan persoalan publik amat menentukan partisipasi publik.

Untuk itu, negara tak boleh kedodoran menanggulangi bencana. Suryadi (2017), menegaskan sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan wilayah yang luas, Indonesia semestinya memiliki tim penyelamat yang hebat, sigap, dan tangguh dalam segala medan dan situasi.

Jangan lupa, kegotongroyongan dan kesukarelaan warga adalah komponen pendukung yang perlu dilatih, dilibatkan, dan dikendalikan secara profensional. Keluhan medan yang sulit dan cuaca yang buruk tak boleh lagi terdengar dan menjadi kendala upaya penyelamatan warga.

Inilah saatnya Presiden Jokowi dan jajaranya bertaruh badan layaknya tim sepak bola yang bermain di ujung waktu pertandingan, semua kekuatan harus dikerahkan dengan strategi yang tepat agar tim meninggalkan lapangan tetap dengan kepala tegak.
Meski bencana datang silih berganti, kita tak perlu pesimis. Sebagai bangsa yang besar, kita memiliki semua potensi untuk berkembang menjadi negara yang tangguh. Yang diperlukan adalah komitmen dan keberanian mengatasi persoalan, agar kita tak seperti apa yang dikatakan Schiller: “sebuah bangsa yang besar namun bingung dengan amalan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments system

Disqus Shortname